Setelah peak season berakhir, tantangan brand bukan lagi soal menarik perhatian, melainkan menentukan apa yang harus dilakukan terhadap pelanggan yang sudah datang.

Setelah peak season berakhir, tantangan brand bukan lagi soal menarik perhatian, melainkan menentukan apa yang harus dilakukan terhadap pelanggan yang sudah datang.
Di fase setelah peak season, transaksi telah terjadi, tetapi keputusan pelanggan untuk kembali belum tentu terbentuk.
Banyak brand terjebak pada asumsi bahwa lonjakan penjualan mencerminkan loyalitas, padahal yang terjadi sering kali hanya respons terhadap momentum peak season sesaat.
Justru setelah kampanye berakhir, pelanggan mulai menilai apakah brand tersebut relevan di luar promo dan urgensi.
Karena itu, retensi tidak boleh berhenti sebagai konsep atau KPI, tetapi perlu diterjemahkan menjadi langkah yang terukur dan realistis.
Tanpa pendekatan yang jelas, lonjakan transaksi selama peak season berisiko berakhir sebagai angka sesaat, bukan relasi jangka panjang.
Agar strategi lebih optimal, simak dahulu informasi mengenai retensi pelanggan pasca peak season yang Redcomm sajikan berikut ini!
Setelah peak season berakhir, umumnya ada pola kesalahan brand yang kerap berulang.
Brand terlalu cepat kembali ke pola promosi.
Diskon lanjutan dianggap sebagai solusi instan untuk menjaga pembelian ulang.
Sayangnya, pendekatan ini sering kali hanya memperpanjang ketergantungan pada harga, bukan membangun loyalitas.
Komunikasi dengan pelanggan baru menjadi tidak konsisten.
Saat kampanye besar berhenti, brand ikut menghilang dari radar pelanggan.
Padahal, fase pasca pembelian adalah momen krusial untuk membentuk persepsi jangka panjang.
Tidak adanya diferensiasi perlakuan terhadap pelanggan peak season.
Semua pelanggan diperlakukan sama, tanpa melihat niat, perilaku, atau potensi jangka panjang.
Akibatnya, strategi retensi menghabiskan biaya yang mahal dan tidak efisien.
Berikut lima pendekatan praktis yang dapat dilakukan brand untuk menjaga pelanggan tetap bertahan setelah lonjakan transaksi mereda.
Periode setelah pembelian pertama adalah fase paling menentukan.
Alih-alih langsung mendorong pembelian ulang, brand perlu lebih dulu membaca perilaku pelanggan baru.
Fokuskan analisis pada:
Data ini membantu brand membedakan pelanggan dengan potensi loyalitas dari mereka yang hanya membeli karena momentum.
Salah satu kesalahan paling umum adalah membiarkan pelanggan pasif setelah transaksi selesai; tidak ada sikap yang mendorong motivasi emosional.
Komunikasi pasca pembelian seharusnya dirancang sebagai alur, bukan pesan terpisah.
Dalamp praktik-nya, brand bisa:
Tujuannya bukan menjual ulang, tetapi memperkuat keyakinan bahwa keputusan membeli adalah pilihan yang tepat.
Retensi pasca peak season sering gagal karena semua pelanggan diperlakukan sama.
Padahal, pelanggan lama dan pelanggan baru memiliki kebutuhan yang berbeda.
Pelanggan baru membutuhkan penguatan value dan kejelasan pengalaman.
Sementara pelanggan lama perlu alasan tambahan untuk tetap setia atau loyal di tengah banyaknya alternatif dari kompetitor.
Dengan membedakan pesan, penawaran, dan timing komunikasi, brand dapat menjaga relevansi tanpa terlihat memaksa.
Promo tetap memiliki peran, tetapi perlu digunakan secara selektif.
Praktisnya, penawaran pasca peak season sebaiknya difokuskan pada:
Pendekatan ini membantu mendorong pembelian ulang tanpa menurunkan persepsi nilai brand.
Retensi bukan hanya tanggung jawab marketing.
Data repeat purchase, keluhan pelanggan, hingga kualitas pelayanan pasca transaksi perlu dibaca bersama oleh tim produk, customer service, dan marketing.
Secara praktis, brand dapat:
Dengan begitu, retensi tidak berhenti sebagai angka, tetapi menjadi dasar perbaikan bisnis berkelanjutan.
Mengubah lonjakan transaksi menjadi loyalitas jangka panjang tidak membutuhkan strategi yang rumit, tetapi konsistensi dalam menjalankan langkah-langkah dasar dengan disiplin.
Brand yang berhasil bukan yang paling agresif saat peak season, melainkan yang paling matang dalam mengelola fase setelahnya.
Di titik inilah retensi bekerja; bukan sebagai campaign jangka pendek, tetapi sebagai proses nyata yang menjaga pertumbuhan bisnis tetap sehat dan berkelanjutan.
Untuk menghindari kesalahan, pahami 7 Alasan Brand Gagal Membangun Retensi Pelanggan.
DISCOVER MORE OF WHAT MATTERS TO YOU
RELATED TOPIC


