Anda pasti sudah memahami tentang strategi digital marketing. Namun, bagaimana dengan myopia marketing?Seperti halnyamiopia atau rabun jauh pada mata, myopia marketing adalah suatu kondisi yang membuat para pebisnis tidak fokus untuk menjual produk jangka panjang, tetapi malah sibuk mengikuti tren yang terjadi di pasar dan menjual produk yang tidak benar-benar dibutuhkan konsumen atau produk yang bukan solusi atas masalah yang dihadapi konsumen. Dengan kata lain, perusahaan hanya mengandalkan produk tertentu yang bisa menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek saja. 

 

Padahal dalam menjalankan bisnis, sudah seharusnya perusahaan tidak hanya memikirkan diri sendiri sebagai produsen, namun harus bisa berperan dalam memberi solusi bagi masalah yang dialami konsumen. Hal ini penting untuk dilakukan dalam digital marketing strategy. Jangan sampai terjadi marketing myopia, di mana perusahaan Andaterlalu fokus dalam menjual barang, tetapi tidak mengikuti keinginan atau perkembangan market

 

Waspadai Myopia Marketing Agar Bisnis Anda Tidak Tersingkir

Untuk memahami lebih jelas, Anda bisa mempelajari beberapa contoh masalah dari brand raksasa bernama Kodak. Pada zamannya, brand atau produk Kodak ini sangat terkenal di dunia fotografi, film, dan kamera. Di tahun 1975, sebenarnya Kodak sudah mampu menciptakan kamera digital melalui seorang karyawannya. Sayangnya, Kodak memilih untuk menyembunyikan produk tersebut daripada menjualnya. 

 

 

Brand Kodak mungkin belum menyadari bahwa konsumen tidak hanya membutuhkan kamera dan film saja, tetapi juga membutuhkan alat yang bisa menampung gambar di dalamnya. Bila pada awalnya Kodak tidak mengalami myopia marketing mungkin sampai saat ini konsumen masih memilihnya untuk mengabadikan momen berharga dalam hidup mereka menggunakan semua produk Kodak.

 

Untuk menghindari kondisi rabun jauh terhadap pelanggan saat melakukan pemasaran, Anda bisa mempelajari dan menerapkan beberapa poin di bawah ini. 

 

  1. Pahami Konsumen dan Buyer’s Journey 

Buyer’s journey merupakan proses yang dialami pelanggan potensial untuk membuat keputusan membeli produk. Ketika Anda memahami konsumen beserta proses dan pola dari mereka, Anda bisa langsung menghindari marketing myopia. Tentu saja dengan catatan, riset yang dilakukan sudah secara detail dan tidak tergesa-gesa, sehingga Anda tahu mengapa pelanggan memilih produk Anda dan menyukainya dibandingkan dengan produk sejenis dari brand kompetitor.  

 

Seperti pada kasus brand Kodak tadi, perusahaan memilih untuk melupakan kebutuhan pelanggan yang ingin sebuah media untuk merekam memori atau kenangan. Sementara Kodak memilih untuk tidak menjual penemuan penting berupa kamera digital, bahkan menyembunyikan hal tersebut hingga akhirnya Kodak kehilangan pelanggan secara bertahap.

 

 

  1. Terus Berkembang dan Berinovasi 

Myopia marketingmembuat sebuah perusahaan berhenti untuk berkembang. Jika hal ini Anda biarkan, pihak kompetitor akan dengan mudah mengambil posisi Anda di pasar, bahkan bisa membuat seluruh pelanggan Anda berpindah ke produk dan brand kompetitor. 

 

Ingat, satu-satunya hal yang bisa membuat suatu bisnis bertahan adalah adanya permintaan atau terpenuhinya kebutuhan konsumen akan produk maupun jasa dari perusahaan Anda. Jadi, ketika produk yang Anda miliki tidak berkembang mengikuti kebutuhan konsumen, bersiaplah untuk tenggelam. 

 

  1. Jangan Takut dengan Brand Cannibalism

Brand cannibalism merupakan kondisi di mana brand produk lain dengan tipe produk sejenis, saling memangsa pasar karena lini bisnisnya memang sama. Kalau ingin berkembang, Anda tidak boleh takut terhadap kejadian ini. Akan ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melakukan penjualan dengan aman. Selain itu, banyak pula kesempatan dalam menjual sebuah produk yang sama ketika Anda bekerja sama dengan top digital marketing companies.

 

 

Seperti misalnya pada penjualan produk mie instan dalam kemasan cup yang tentunya akan memakan pasar mie instan kemasan plastik. Namun, penjualan tersebut akan menciptakan pasar baru dalam dunia makanan atau mie instan. Hal ini membuat banyak pelanggan yang tidak mau repot memasak mie ke dalam panci di atas kompor ataupun microwave tertarik untuk membeli mie instan versi cup.  

 

Prinsipnya, brand cannibalism tidak akan menjadi masalah atau gangguan yang berarti ketika Anda tahu pangsa pasar yang dituju, baik dari segi usia, lokasi, dan lainnya. 

 

Selain ketiga cara di atas, Anda bisa pula meminta bantuan orang atau tim yang ahli di bidangnya, seperti brand consultantmisalnya. Mereka akan mempermudah kerja Anda untuk terus mengembangkan produk dan terhindar dari myopia marketing serta bisa terus bersaing dengan brand kompetitor.