Sebelum Anda membaca artikel tentang Teknik Storytelling yang Bisa Anda Lakukan untuk Menarik Hati Pelanggan ini, Anda sebaiknya sudah lebih dulu membaca dua artikel sebelumnya di halaman Redcomm Knowledge ini, yaitu yang berjudul Manfaat Content Marketing Bisa Membangun Reputasi Bisnis dan Cara Menerapkan Storytelling dalam Pembuatan Content Marketing. Ini hanya saran supaya Anda lebih mudah memahami secara keseluruhan mengenai teknik storytelling dalam membuat content marketing.

 

Mengapa Perlu Teknik Storytelling yang Bisa Anda Lakukan untuk Menarik Hati Pelanggan?

Pemasaran merupakan salah satu kegiatan utama yang dilakukan oleh para pengusaha dalam rangka menjaga kelangsungan, perkembangan, dan tentunya mencari keuntungan. Proses pemasaran dapat dimulai jauh sebelum barang diproduksi dan tidak berakhir begitu saja setelah terjadi penjualan. Artinya, pemasaran dan promosi harus dilakukan secara terus menerus dan konsisten untuk menjaga kelangsungan bisnis. 

 

Teknik storytelling yang bagus dalam membuat konten menjadi tren marketing beberapa waktu belakangan. Alasannya, karena aktivitas pemasaran perusahaan tidak lepas dari upaya memberikan kepuasan kepada pelanggan dalam banyak bentuk, termasuk melalui konten-konten yang bisa membantu pelanggan mengatasi permasalahan yang sedang mereka hadapi. 

 

Lalu, bagaimana cara membuat konten marketing menggunakan storytelling yang bisa menarik perhatian pelanggan? 

 

 

Cara Membuat Konten Marketing dengan Storytelling yang Menarik dan Menjual

 

  1. Kreativitas yang Membumi

Ketika menulis sebuah konten marketing, tugas Anda adalah membuat pesan yang dapat menarik perhatian pelanggan. Namun, agar bisa mengemas pesan itu jadi menarik, Anda perlu memiliki kreativitas yang membumi. Maksud dari kreativitas membumi di sini, Anda memiliki kemampuan mengeksekusi ide-ide yang unik dan berbeda dengan yang sudah digunakan kompetitor, namun dengan pesan yang mudah dipahami target pasar yang Anda bidik.

 

Ada satu ungkapan yang pernah dicetuskan oleh Cory Doctorow, seorang jurnalis dan penulis dari Kanada, Inggris. Ungkapannya berbunyi, “Percakapan adalah raja. Konten hanyalah sesuatu untuk dibicarakan.”

 

Jika memiliki kreativitas yang membumi, Anda akan mampu melihat ide-ide unik yang muncul dari aktivitas dan kehidupan sehari-hari yang banyak dijalani oleh orang-orang, kemudian mengolahnya menjadi cerita dengan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik sehingga mampu membawa audiens ikut larut dalam cerita tersebut. Semakin banyak orang terhanyut dengan cerita di dalam konten yang Anda buat, semakin banyak pula orang yang memperbincangkan konten tersebut. 

 

  1. Komunikasi terbuka

Tak ada salahnya memulai komunikasi terbuka dengan pelanggan untuk mencari tahu lebih banyak mengenai reaksi dan tanggapan mereka terhadap promosi yang Anda lakukan. Memang di saat yang sama, Anda perlu mempersiapkan diri dengan kemungkinan adanya kritik maupun reaksi negatif dari pelanggan Anda. 

 

Menciptakan komunikasi terbuka di sini bisa melalui interaksi yang Anda ciptakan di media sosial maupun media interaksi lainnya. Anda juga bisa mengumpulkan data dan informasi melalui survei. Jawaban dan informasi yang diberikan pelanggan, kemudian bisa Anda olah sebagai bahan pembuatan konten yang didukung dengan penceritaan dari sudut pandang unik dan mampu meninggalkan kesan mendalam.

 

 

  1. Mempertajam Empati

Tempatkan diri Anda pada posisi pelanggan dan pelajari perasaan mereka. Apa kebutuhan mereka saat ini? Apa yang membuat mereka mau bertahan membaca atau menonton konten marketing yang Anda buat? Lakukan analisis dan kenali dorongan emosi yang mereka rasakan saat membeli produk Anda.

 

Analisis emosi ini bisa membantu Anda menemukan ide-ide baru untuk menerapkan teknik storytelling, karena pada dasarnya cerita yang ditulis dengan teknik storytelling adalah cerita yang ditulis dengan hati, yang pesannya kemudian bisa sampai pula ke hati pelanggan atau calon pelanggan yang menjadi target iklan. 

 

  1. Perilaku Pelanggan dalam Hal Membaca

Setiap generasi memiliki kecenderungan perilaku yang berbeda. Jika di masa lalu orang lebih tertarik dalam informasi berbentuk teks yang kaya akan data, maka generasi saat ini lebih tertarik dengan informasi yang disajikan secara visual. 

 

Beberapa tren yang saat ini sedang berkembang, misalnya tren selfie di tempat-tempat bernuansa unik, check-in di lokasi tertentu yang dikunjungi, hingga mengunggah foto produk atau makanan ke media sosial. Cobalah manfaatkan tren yang sedang berlangsung dan hubungkan dengan perilaku pelanggan terkait kebiasaan mereka membaca.

 

Penggabungan beberapa metode pembuatan konten marketing yang didukung dengan gaya bercerita berdasarkan tren yang sedang terjadi, akan mampu mewujudkan satu konten menarik yang bisa mensukseskan digital campaign yang Anda lakukan. Jangan lupa, sisipkan pula nilai-nilai tertentu tentang keberadaan manusia dalam cerita Anda. 

 

  1. Gunakan Kekuatan Media

Apapun medianya, baik media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, blog, website, bahkan billboard, tetap gunakan kekuatan masing-masing media untuk menyampaikan pesan utama dari storytelling Anda. Tuliskan narasi menarik sebagai pengantar pembuka tulisan yang ada di blog Anda. Konten bentuk lain misalnya merangkum satu cerita dalam 140 karakter untuk diposting di Twitter. Anda juga bisa membagikan link ke situs website perusahaan di Facebook yang berisi tentang cerita terkait produk yang sedang Anda promosikan, dilengkapi dengan video pendukungnya. 

 

Dengan kata lain, meskipun storytelling yang Anda masukkan dalam konten marketing, jika tak disertai dengan penggunaan kekuatan media yang Anda gunakan sebagai wadah melakukan promosi, maka semuanya akan sia-sia. Maka dari itu, sesuaikan konten marketing dengan media untuk menayangkannya, baru kemudian lakukan teknik storytelling dengan pesan yang kuat sehingga kampanye iklan yang Anda lakukan bisa mencapai target yang ditetapkan. 

 

 

  1. Cerita yang kredibel

Membuat cerita emosional tidak berarti Anda harus mengabaikan fakta dan data. Kombinasi cerita dan data akan menyentuh target Anda secara emosional dan intelektual. Banyak contoh kasus iklan suatu produk yang dibuat dengan teknik storytelling, namun dengan data yang dipaksakan, maka hasilnya tentu saja membuat pelanggan mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya dalam hati, benar tidak sih apa yang diceritakan dalam iklan tersebut?

 

Sebaliknya, jika produk Anda adalah sebuah sepatu, lalu Anda membuat konten dalam bentuk video tentang seorang anak yang harus pergi ke sekolah dengan menggunakan sandal jepit busuk. Anak itu berjalan puluhan kilometer, bahkan hingga kakinya luka. Lalu dia bertemu dengan seseorang yang kebetulan membawa sepatu baru dan memberikan sepatu itu sebagai hadiah karena anak itu pernah menulis surat kepada orang itu dalam satu kesempatan dan menyebutkan kalau dia ingin memiliki sepatu. 

 

Cerita seperti ini bisa jadi akan lebih menyentuh hati dibandingkan dengan penyertaan data yang berlebihan, atau data yang malah kebenarannya diragukan. Terlalu melebih-lebihkan suatu fakta adalah kesalahan yang banyak dilakukan oleh pebisnis pemula. Niatnya untuk menarik perhatian, namun dampak buruknya adalah pebisnis tersebut bisa kehilangan kepercayaan pelanggan akibat “iklan yang bohong.” 

 

Masih ada banyak teknik storytelling yang bisa Anda lakukan untuk menarik hati pelanggan. Semoga di artikel lain, Redcomm bisa menyajikan lebih lanjut berbagai tips digital marketing dan pembuatan konten marketing lainnya.