Di tahun 2026 ini, perubahan terbesar dalam dunia digital marketing bukan terjadi pada channel, tetapi pada cara audiens mengkonsumsi informasi.

Di tahun 2026 ini, perubahan terbesar dalam dunia digital marketing bukan terjadi pada channel, tetapi pada cara audiens mengkonsumsi informasi.
Audiens tidak lagi melakukan pencarian informasi secara konvensional dengan menelusuri referensi di mesin pencari. Mereka beralih ke berbagai platform AI generatif atau membaca ringkasan di AI Overview.
Otomatis cara brand menjangkau audiens mau tidak mau harus ikut berubah.
Jika sebelumnya brand bersaing untuk mendapatkan klik di search engine, kini semakin banyak keputusan diambil langsung dari jawaban yang dihasilkan AI, baik melalui AI Overview, maupun berbagai Large Language Model (LLM).
Tentunya perubahan ini memunculkan pertanyaan di kepala Anda, terutama bagi Anda yang di posisi marketing leader, CMO, atau pengambil keputusan bisnis di perusahaan.
"Kalau target konsumen tidak lagi melakukan klik di situs pencarian, bagaimana brand bisa tetap relevan, terlihat, dan mudah ditemukan pelanggan?"
Jawaban untuk pertanyaan itu tidak lagi terletak pada ranking dan posisi website di SERP saja, namun berkaitan pada mampu tidaknya brand menjadi sumber yang dipercaya dan dirujuk oleh AI.
Inilah fase baru dalam digital marketing, dari SEO menuju Generative Engine Optimization (GEO).
Google Search Generative Experience / AI Overview adoption reports menyebutkan bahwa adopsi Artificial Intelligence (AI) dalam dua tahun terakhir terus mengalami peningkatan.
Laporan McKinsey berjudul The State of AI in 2025: Agents, Innovation, and Transformation, menunjukkan ada lebih dari 65-70% brand kini telah mengadopsi AI, dalam setidaknya satu fungsi bisnis, termasuk marketing dan customer engagement.
Sementara di Asia Tenggara, berdasarkan laporan e-Conomy SEA oleh Google, Temasek, dan Bain, tren ini bahkan berkembang lebih cepat didorong penetrasi mobile-first dan tingginya konsumsi konten digital, termasuk generative search dan AI Assistant, dalam proses pencarian informasi dan pengambilan keputusan.
Pertumbuhan tersebut diproyeksikan akan terus mengalami peningkatan seiring dengan integrasi AI dalam platform utama, seperti search engine, e-commerce, hingga social media.
Semua data tersebut membuktikan betapa pentingnya brand Anda menjadi referensi dan rujukan di LLM dan AI Overview, karena:
Untuk Anda ketahui, cara kerja LLM berbeda dengan SEO tradisional ya. LLM tidak hanya mengevaluasi keyword atau backlink saja, tetapi akan mengutamakan:
Artinya, saat ini bukan lagi zaman membuat konten hanya berdasarkan keyword dengan search volume besar, massive content, atau banyaknya backlink saja. Anda harus benar-benar menghasilkan konten berkualitas berbasis kepercayaan algoritmik.
Large Language Model (LLM) adalah model AI yang dilatih dari miliaran kata, dokumen, dan konten online. Contohnya: ChatGPT, Gemini, Claude, DeepSeek, dan Perplexity.
Berbagai model AI berbentuk LLM ini tidak sekadar menjawab pertanyaan, tetapi juga mampu merekomendasikan produk, jasa, atau informasi yang audiens butuhkan secara spesifik.
Berbeda dengan SEO di Google, LLM menyusun jawaban berbasis pemahaman semantik dan kualitas informasi. Jika brand Anda tidak “terbaca” oleh LLM, Anda akan hilang dari radar calon pembeli.
Sederhananya, pola konsumsi saat ini tidak hanya sekadar mengetikkan kata kunci di search bar, melainkan melalui dialog langsung dengan AI.
Audiens mungkin akan bertanya, seperti “Apa mesin kopi terbaik di bawah Rp2 juta?” atau “Rencanakan liburan akhir pekan murah tapi seru.”
Kemudian dialog bisa saja berlangsung cukup panjang antara AI dan audiens hingga audiens bisa mendapatkan informasi lengkap yang mereka butuhkan.
Masalahnya sekarang, ketika konsumen tidak lagi melakukan pencarian di Google, melainkan langsung ke AI, seperti ChatGPT, bagaimana brand Anda bisa tetap jadi pilihan utama?
Perubahan ini sering kali terlihat kecil, tetapi implikasinya besar.
Dalam model lama: pengguna mencari → melihat daftar link → memilih sumber.
Pada model pencarian baru berbasis AI: pengguna bertanya → AI merangkum → jawaban langsung tersedia.
Akibatnya, banyak pencarian menjadi zero-click. Lalu traffic tidak lagi menjadi satu-satunya indikator keberhasilan. Dampak berikutnya, brand awareness bergeser ke dalam layer AI.
Ini yang disebut sebagai answer economy.
Sebagian besar strategi marketing masih dibangun untuk model lama. Beberapa gap yang sering ditemukan:
Akibatnya, meskipun brand memiliki banyak konten, mereka jarang muncul dalam AI-generated answers.
Untuk menjawab perubahan besar yang terjadi karena keberadaan AI, sudah seharusnya saat ini juga Anda mulai mengimplementasi framework yang berfokus pada strategi marketing era AI, di antaranya:
Pastikan konten Anda bisa memberikan jawaban langsung atas pertanyaan audiens. Hal ini karena LLM cenderung mengambil bagian konten yang:
Contoh struktur efektif:
Strategi marketing agar menjadi referensi di LLM dan AI Overview adalah dengan membangun konten yang terstruktur, otoritatif, dan menjawab pertanyaan secara eksplisit agar mudah diringkas oleh AI. Setelah itu, baru masuk ke elaborasi.
AI dan LLM lebih percaya pada website yang:
Artinya, satu artikel bagus tidak cukup. Anda perlu membuat ekosistem konten.
Struktur konten memegang peranan penting karena dari struktur tersebut AI bisa memahami isinya. Maka konten harus:
Konten yang memiliki struktur jelas akan memudahkan AI memahami dan mengekstrak informasi dengan lebih akurat.
LLM membaca entitas, bukan hanya kata. Misalnya:
Semakin jelas konteks dan relasi antar entitas, semakin mudah AI memahami posisi brand Anda.
Kenapa hal ini penting? Karena AI dan LLM cenderung memilih konten yang memang memiliki konteks jelas, tidak hanya berisi definisi, dan mampu menjawab "so what?"
Anda juga perlu mengintegrasikan data dan insight yang aktual. Konten dengan data 2025–2026 memiliki peluang lebih tinggi menjadi rujukan LLM dan AI Overview dibanding konten generik tanpa referensi waktu.
LLM dan AI Overview akan lebih memprioritaskan:
Selain itu, kredibilitas tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk mesin. AI akan tetap mempertimbangkan apakah E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) sudah diterapkan dalam setiap konten?
Dalam praktiknya, Redcomm sudah berhasil mengintegrasikan AI dalam strategi marketing untuk membantu lebih dari 500+ brand dan menyelenggarakan 1000+ campaign.
Redcomm adalah digital agency yang mengedepankan AI di dalam proses, proposal marketing dan services yang mereka tawarkan kepada brand. Pendekatan ini memastikan bahwa konten dan strategi tidak hanya dioptimalkan untuk visibilitas, tetapi juga untuk membangun kepercayaan dalam ekosistem AI-driven search.
Menjadi pemenang dan meraih gelar Agency of the Year selama delapan tahun berturut-turut sejak 2018 hingga 2025 menunjukkan konsistensi adaptasi Redcomm Indonesia terhadap perubahan industri digital.
Di era di mana AI menjadi baseline baru, tantangannya bukan sekadar mengikuti tren, tetapi mengintegrasikan data, kreativitas, dan teknologi secara harmonis agar strategi tetap relevan dan berdampak.
Di era AI 2026, brand yang dipilih AI adalah brand yang paling terstruktur, paling kredibel, dan paling konsisten dalam membangun otoritas.
Dalam ekosistem ini, strategi marketing harus berpindah dari sekadar “muncul di Google” menjadi “dipercaya oleh AI”.
Beberapa implikasi penting yang perlu Anda perhatikan:
Pertanyaan yang perlu Anda jawab: “Apakah strategi marketing Anda masih dirancang untuk search engine, atau sudah untuk AI engine?”
Anda bisa mendiskusikan jawaban Anda dengan tim ahli dari Redcomm dengan menghubungi Kontak Redcomm.
DISCOVER MORE OF WHAT MATTERS TO YOU
RELATED TOPIC

