Di tahun 2026, budaya layar tidak lagi mampu bersaing dengan pengalaman nyata, sebagaimana disampaikan oleh Nicky Davies dari Spark. Bagi brand, pengalaman yang kuat mampu mengubah audiens menjadi komunitas yang loyal.

Di tahun 2026, budaya layar tidak lagi mampu bersaing dengan pengalaman nyata, sebagaimana disampaikan oleh Nicky Davies dari Spark. Bagi brand, pengalaman yang kuat mampu mengubah audiens menjadi komunitas yang loyal.
Tantangan terbesar yang dihadapi brand saat ini adalah membangun koneksi autentik dengan audiens di tengah peningkatan waktu layar yang ekstrem, disertai puncaknya digital fatigue. Brand berada di bawah tekanan untuk menonjol dan menyediakan momen yang terasa manusiawi.
Lisa Miles, Direktur Strategi Pertumbuhan, Wawasan, dan Keterlibatan di Outernet London, menyatakan, “Upaya untuk menonjol di tengah keramaian dan memberikan kesempatan bagi konsumen untuk melewati kelelahan digital akan menjadi faktor kunci bagi brand sepanjang tahun mendatang.”
Oleh karena itu, pengalaman menjadi elemen paling krusial dalam strategi digital marketing 2026.
Brand tidak lagi dapat bergantung pada konten pasif. Untuk maju, diperlukan pengalaman yang melibatkan partisipasi aktif audiens, baik secara digital maupun di dunia nyata.
Relaunch Topshop pada 2025 menjadi indikator awal tren ini di 2026. Saat banyak editor fashion sedang berlibur dan dunia tidak dalam mode fashion konvensional, Topshop menggelar pertunjukan fashion musim panas di Trafalgar Square, London.
Moses Rashid, Direktur Pemasaran Global Topshop, menjelaskan, “Sangat penting bagi audiens kami untuk hadir dan mengalami runway show pertama kami setelah hampir satu dekade.
Mereka membawa energi luar biasa yang memungkinkan kami menikmati momen bersama.” Hasilnya bukan hanya liputan media, melainkan pernyataan niat yang jelas: “Kami ingin audiens merasa dapat berinteraksi dengan kami, memiliki suara, dan memengaruhi keputusan masa depan kami,” tambah Rashid.
Pengalaman saat ini tidak terbatas pada ruang fisik. Ia dapat disampaikan melalui layar via live shopping atau storytelling emosional seperti iklan Natal dari John Lewis, Amazon, dan Marks & Spencer, serta aktivasi dunia nyata. Perubahan utama terletak pada cara koneksi ini menyebar lintas kanal.
Keberhasilan dalam perdagangan modern menuntut pemikiran eksperimental di berbagai platform: media sosial, out-of-home (OOH), daring, dan dunia nyata.
Narasi yang konsisten mendorong keterikatan emosional di setiap titik kontak. Saluran digital tetap relevan sebagai pintu masuk, bukan tujuan akhir. Seperti diungkapkan Miles, “Ketika individu menjadi bagian dari pengalaman brand, mereka berinvestasi secara pribadi. Ini tentang menciptakan lebih banyak pengalaman tersebut di dunia digital yang penuh kekacauan.”
Nostalgia menjadi tren kuat, terbukti dari tur reuni Oasis 2025 yang memperebutkan 10 juta tiket dan ditonton 2,9 juta orang secara langsung. Kembalinya band-band era 1990-an bertepatan dengan kebangkitan fashion 90-an, seperti denim longgar dan sepatu besar.
Di tengah tantangan geopolitik dan berita berat, nostalgia menawarkan kenyamanan, sementara daya tahan (longevity) menjadi nilai jual bagi konsumen.
Jack Stratten, Direktur Insider Trends, menyatakan, “Di dunia di mana brand dan produk baru muncul serta lenyap dengan cepat, warisan dan sejarah autentik yang disampaikan dengan percaya diri merupakan proposisi yang kuat.”
Nostalgia memang efektif untuk penjualan, namun bukan strategi mandiri. Rashid menekankan, “Penting untuk menghormati warisan masa lalu, tetapi dengan fokus ke depan yang kuat.” Brand pemenang 2026 adalah yang berinovasi tanpa kehilangan identitas inti.
Berikut langkah-langkah implementasi yang dapat diterapkan:
Di Indonesia, tren ini selaras dengan ekosistem digital yang berkembang pesat, seperti kolaborasi dengan platform ecommerce lokal.
Pada 2026, brand harus beralih dari penyiar satu arah menjadi fasilitator pengalaman. Digital marketing berfokus pada emosi dan koneksi berkelanjutan.
Nostalgia menarik, pengalaman mempertahankan, dan komunitas memastikan kelangsungan. Dengan lebih dari 200 juta pengguna internet di Indonesia, peluangnya sangat besar.
Strategi ini memastikan brand tidak hanya bertahan, tetapi juga mendominasi pasar.
DISCOVER MORE OF WHAT MATTERS TO YOU
RELATED TOPIC


