knowledge
MENU
SEARCH KNOWLEDGE

Cara Menggunakan AI Dalam Marketing: 7 Strategi yang Bisa Langsung Anda Terapkan

22 Apr  · 
4 min read
 · 
eye 5  
Digital Marketing

Menggunakan Ai Dalam Marketing

Menggunakan AI dalam marketing dapat membantu brand membuat keputusan bisnis secara lebih cepat dan relevan, mulai dari pembuatan konten, optimasi iklan, hingga personalisasi customer journey.

Keberhasilan penggunaan AI sangat bergantung pada mampu tidaknya Anda mengintegrasikan AI secara end to end.

Nah, di artikel Redcomm Knowledge kali ini Anda bisa mempelajari cara menggunakan AI untuk marketing dalam 7 langkah strategi yang sistematis.

Kenapa Banyak Brand Gagal Menggunakan AI?

Meskipun adopsi AI dalam marketing terus meningkat, tidak sedikit perusahaan yang belum melihat dampak nyata terhadap performa bisnis mereka.

Masalahnya bukan terletak pada teknologi yang digunakan, melainkan pada cara mengimplementasikan AI dalam strategi bisnis.

Dalam banyak kasus, kegagalan terjadi karena dua hal mendasar: pemilihan use case yang tidak tepat dan tidak adanya integrasi dalam sistem marketing.

1. Tidak Memahami Use Case yang Tepat

Banyak brand memulai adopsi AI dari penggunaan tools, bukan dari masalah bisnis yang ingin diselesaikan.

Akibatnya, AI digunakan untuk aktivitas yang tidak memiliki dampak signifikan terhadap performa. Misalnya: 

  • Mencari tools AI untuk mempercepat produksi konten tanpa memperjelas strategi distribusi.
  • Menggunakan AI untuk mengotomatisasi campaign tanpa memperbaiki kualitas targeting.

Dalam kondisi seperti ini, AI memang meningkatkan efisiensi, tetapi tidak meningkatkan hasil.

Padahal, nilai terbesar AI justru muncul ketika digunakan pada titik yang tepat, yaitu area yang memiliki leverage tinggi terhadap revenue, seperti optimasi media, personalisasi customer journey, atau pengambilan keputusan berbasis data.

Dengan kata lain, pertanyaan yang seharusnya Anda ajukan terlebih dahulu bukan tentang “tools apa yang perlu digunakan?”, tetapi “masalah apa yang ingin Anda selesaikan dengan AI?”

2. Tidak Terintegrasi dalam Sistem Marketing

Selain pemilihan use case, AI sering digunakan secara terpisah, misalnya hanya untuk konten, hanya untuk ads, atau hanya untuk CRM, tanpa adanya koneksi antar fungsi.

Akibatnya, data tidak saling terhubung, insight tidak mengalir, dan keputusan yang diambil menjadi tidak konsisten.

Dalam situasi ini, AI hanya berfungsi sebagai layer tambahan, bukan sebagai sistem yang memperkuat keseluruhan strategi marketing.

Padahal, dampak terbesar AI justru muncul ketika semua komponen, yang meliputi data, channel, dan proses, terhubung dalam satu ekosistem yang terintegrasi.

7 Cara Menggunakan AI Dalam Marketing

Untuk mendapatkan dampak nyata dan meningkatkan keberhasilan penggunaan AI dalam marketing, Anda bisa menerapkan 7 cara menggunakan AI dalam marketing berikut ini:

1. Content Ideation & Creation

Banyak brand menggunakan AI untuk mempercepat produksi dan publikasi konten pemasaran. Namun konten yang dihasilkan seringnya lebih generik, tidak konsisten, dan sering tidak relevan dengan bisnis.

Nah, seharusnya cara menggunakan AI dalam marketing tidak melulu pada mempercepat produksi konten saja. Namun seharusnya Anda bisa memanfaatkan AI untuk:

  • Mencari dan mengidentifikasi topik yang sedang banyak dicari audiens saat ini.
  • Menentukan format konten yang paling menarik untuk segmen tertentu.
  • Sudut pandang (angle) seperti apa yang belum banyak digunakan oleh kompetitor?

Contohnya, AI dapat mengidentifikasi kalau audiens tidak hanya melakukan pencarian terkait “AI marketing” saja, tetapi bisa jadi lebih spesifik, seperti:

  • Cara menggunakan AI untuk meningkatkan ROI marketing.
  • Strategi dan framework AI marketing untuk customer retention.

Insight seperti ini memungkinkan Anda menghasilkan konten yang lebih relevan, bahkan berpeluang untuk menghasilkan potential leads.

2. Copywriting & Messaging Optimization

Praktik yang banyak terjadi, brand menggunakan AI untuk memproduksi konten dalam jumlah besar, yang akhirnya tidak efektif mendorong terjadinya konversi. Masalahnya bukan pada kurangnya volume, melainkan pada ketepatan pesan.

Nah, menggunakan AI dalam marketing bisa membantu memecahkan masalah ini, misalnya dengan menganalisis performa copy secara historis, mulai dari headline, value proposition, hingga call to action, lalu merekomendasikan variasi yang paling berpotensi menghasilkan respons.

Maka bisa diperinci lebih detail bahwa cara menggunakan AI yang tepat dalam implementasi strategi marketing dapat:

  • Menghasilkan beberapa alternatif headline dengan sudut pandang berbeda, seperti benefit driven, urgency, hingga social proof.
  • Menguji variasi CTA berdasarkan konteks audiens.
  • Menyesuaikan tone pesan untuk segmen yang berbeda.

Sebagai contoh, satu campaign dapat memiliki beberapa versi pesan yang secara otomatis disesuaikan dengan perilaku pengguna, misalnya audiens baru vs returning users.

Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada strategic narrative yang ditetapkan di awal. AI dapat mengoptimalkan cara pesan disampaikan, tetapi tidak menentukan positioning brand. Di sinilah peran manusia tetap menjadi pembeda.

3. Ads Optimization & Targeting

Dalam performance marketing, AI telah mengubah cara mengelola campaign dari yang sebelumnya manual menjadi sistem yang terus belajar.

Alih-alih mengatur targeting dan bidding secara statis, AI memanfaatkan data perilaku untuk:

  • Mengidentifikasi audiens dengan probabilitas konversi tertinggi.
  • Menyesuaikan bidding secara real time.
  • Mengalihkan budget ke kombinasi channel dan kreatif yang paling efektif

Hasilnya bukan hanya efisiensi biaya, tetapi juga peningkatan kualitas distribusi di mana iklan lebih sering muncul kepada audiens yang relevan.

Namun, ada satu hal yang sering disalahpahami: AI hanya mengoptimalkan apa yang sudah ada. Jika strategi awal tidak jelas, misalnya positioning lemah atau kreatif tidak kuat, AI tidak akan memperbaiki itu.

Karena itu, AI seharusnya dilihat sebagai accelerator, bukan solusi pengganti strategi.

4. CRM & Personalization

Salah satu nilai terbesar AI dalam marketing terletak pada kemampuannya mengelola hubungan dengan pelanggan secara lebih personal dalam skala besar.

Berbeda dengan segmentasi tradisional yang bersifat statis, AI memungkinkan pendekatan yang lebih dinamis, seperti:

  • Pesan dapat disesuaikan berdasarkan perilaku terakhir pengguna.
  • Rekomendasi produk berubah sesuai preferensi individu.
  • Journey pelanggan diatur secara otomatis berdasarkan interaksi.

Contohnya, dua pengguna yang mengunjungi halaman yang sama dapat menerima pengalaman yang berbeda, baik dari sisi konten, penawaran, maupun timing komunikasi.

Cara menggunakan AI dalam marketing seperti ini tidak hanya meningkatkan engagement, tetapi juga memperpanjang hubungan dengan pelanggan, yang pada akhirnya berdampak pada Customer Lifetime Value.

5. Customer Service (Chatbot & Conversational AI)

AI juga berperan dalam meningkatkan kualitas interaksi dengan pelanggan.

Chatbot berbasis AI tidak hanya menjawab pertanyaan dasar, tetapi juga mampu memahami konteks dan memberikan respons yang lebih relevan.

Selain meningkatkan efisiensi, penggunaan AI di sini dapat membantu brand menjaga konsistensi pengalaman pelanggan di berbagai touchpoint.

6. Audience Insight & Behavior Forecasting

Salah satu kekuatan utama AI adalah kemampuannya mengubah data menjadi pemahaman yang dapat Anda gunakan untuk mengambil keputusan.

Alih-alih hanya melihat laporan performa, AI membantu Anda memahami pola perilaku pelanggan, karakteristik segmen yang paling bernilai, hingga perubahan tren yang sedang terjadi.

Lebih jauh lagi, AI dapat memberikan proyeksi, misalnya segmen mana yang berpotensi berkembang, atau kapan permintaan akan meningkat.

Data yang dIhasilkan AI tersebut memungkinkan Anda bergerak dari reaktif menjadi proaktif.

Di saat yang sama,  pengambilan keputusan bisnis tidak lagi hanya didasarkan pada apa yang sudah terjadi, tetapi juga pada apa yang kemungkinan akan terjadi. Ini menjadi fondasi penting dalam menyusun strategi lanjutan yang lebih tepat sasaran.

7. A/B Testing Automation

alam pendekatan tradisional, A/B testing sering kali terbatas pada beberapa variasi dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghasilkan insight.

Sebaliknya, menggunakan AI dalam marketing memungkinkan Anda untuk:

  • Melakukan pengujian berbagai variasi secara simultan.
  • Evaluasi performa secara real time.
  • Distribusi otomatis ke variasi dengan performa terbaik.

Sebagai contoh, dalam satu campaign, AI dapat menguji puluhan kombinasi headline, visual, dan CTA sekaligus, sesuatu yang hampir tidak mungkin dilakukan secara manual.

Dampaknya adalah proses learning jauh lebih cepat, sehingga optimasi dapat dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya di akhir campaign.

Namun, seperti halnya fungsi AI lainnya, kualitas hasil tetap bergantung pada kualitas input. Tanpa hipotesis yang jelas, testing akan menghasilkan data, tetapi belum tentu insight yang berkualitas.


Menggunakan AI dalam marketing bukan tentang seberapa banyak tools yang digunakan, tetapi tentang bagaimana AI diintegrasikan ke dalam sistem kerja.

Tujuh strategi di atas menunjukkan bahwa AI dapat diterapkan di seluruh funnel, mulai dari konten hingga optimasi performance.

Lalu kalau sekarang Anda membutuhkan rekomendasi yang tepat untuk implementasi AI dalam bisnis, coba cari tahu dengan membaca artikel: Tools AI Marketing Terbaik 2026: Rekomendasi untuk Content, Ads, dan Automation.

SUBSCRIBE NOW

RELATED TOPICS:

DISCOVER MORE OF WHAT MATTERS TO YOU

SUBSCRIBE NEWSLETTER