knowledge
MENU
SEARCH KNOWLEDGE

Sombong yang Terencana: Saat Brand Pakai Flexing sebagai Senjata Digital Marketing

24 Jun, 2026  · 
4 min read
 · 
eye 13  
Digital Marketing Strategy

Brand Flexing Digital Marketing

Brand flexing adalah strategi content marketing yang memanfaatkan pencapaian bisnis sebagai bahan komunikasi di media sosial. Jika dilakukan secara autentik dan relevan, flexing dapat meningkatkan social proof, engagement, brand awareness, dan kredibilitas brand. Namun strategi ini juga memiliki risiko apabila dilakukan secara berlebihan, tidak dapat diverifikasi, atau terasa arogan bagi audiens.

Salah satu contoh paling segar datang dari akun Threads @momoyo.benefit, brand es krim yang belakangan cukup ramai dibicarakan. Postingan mereka berbunyi begini:

“Coba atmin brand kita main sombong-sombongan, aku duluan ya: 'Baru 3 tahun udah punya 1300 store' ?? cetassss”

Singkat. Santai. Tapi “cetaasss” banget dampaknya. Satu postingan itu langsung jadi pembicaraan, karena berhasil menyampaikan pencapaian besar dengan cara yang menghibur — bukan membosankan.

Fenomena ini bukan sekadar tren iseng. Di baliknya, ada strategi digital marketing yang cukup dalam untuk dibahas. Yuk, kita kupas tuntas.

Apa Itu Brand Flexing?

Brand flexing adalah strategi komunikasi yang menampilkan pencapaian, pertumbuhan, skala bisnis, penghargaan, atau keunggulan kompetitif sebuah brand melalui konten yang dirancang untuk membangun social proof dan meningkatkan kredibilitas di mata audiens.

Berbeda dengan iklan konvensional, brand flexing biasanya dikemas secara kasual, menghibur, dan relevan dengan budaya media sosial sehingga lebih mudah diterima oleh audiens digital.

Kenapa Tren Brand Flexing Ini Meledak Sekarang?

Kalau selama ini Anda mengenal “flexing” sebagai gaya pamer individu di media sosial, pamer mobil mewah, liburan ke luar negeri, atau saldo rekening, maka sekarang fenomenanya sudah merambah ke dunia brand.

Jadi, brand secara sengaja memperlihatkan pencapaian, angka, fasilitas, atau keunggulan mereka di media sosial — bukan dalam format iklan formal, melainkan dalam gaya yang kasual, relatable, bahkan kadang sedikit "kurang ajar" (dalam artian yang menyenangkan).

Ada beberapa alasan yang membuat tren ini meledak:

1. Audiens Modern Sudah Kebal Iklan

Konsumen digital hari ini mengalami yang disebut “ad fatigue”, yaitu jenuh melihat konten promosi yang terlalu kaku dan hard-selling. Mereka lebih tertarik pada konten yang terasa manusiawi dan natural.

2. Platform seperti Threads Mendorong Percakapan, Bukan Iklan

Di sinilah brand yang berani "ngobrol santai" justru lebih mudah viral dibanding yang terus-terusan posting katalog produk.

3. Social Proof Makin Penting

Di era di mana orang lebih percaya ulasan sesama pengguna daripada iklan berbayar, menunjukkan angka nyata adalah cara paling efektif membangun kepercayaan. 

Cari tahu penjelasan lebih lengkap mengenai pentingnya social proof bagi brand dengan membaca artikel: Peran Digital Marketing Agency dalam Membangun Social Proof Brand.

Perbedaan Flexing dan Personal Branding

Personal branding yang baik berfokus pada membangun identitas yang konsisten dan memberikan nilai tambah bagi audiens. Tujuannya bukan sekadar terlihat hebat, tapi membuat orang merasa ada manfaat yang didapat dari mengikuti akun tersebut.

Flexing, di sisi lain, lebih berfokus pada menampilkan pencapaian atau kemewahan secara eksplisit, dengan tujuan menciptakan kesan prestisius atau membuat orang “kagum”.

Nah, yang dilakukan Momoyo di Threads itu ada di persimpangan keduanya. Mereka tidak sekadar pamer angka — mereka melakukannya dengan “cara” yang membuat audiens tertawa dan merasa terlibat. Itu bukan sekadar flexing biasa; itu adalah “flexing yang dikemas sebagai konten”.

Kenapa Flexing Bisa Jadi Strategi Marketing yang Ampuh?

Kalau dilakukan dengan benar, brand flexing punya manfaat yang sangat nyata untuk pertumbuhan digital sebuah brand. Ini beberapa di antaranya:

1. Membangun Social Proof Secara Organik

Angka tidak bohong. Ketika Momoyo bilang “baru 3 tahun sudah punya 1.300 gerai”, ini adalah bukti nyata yang jauh lebih meyakinkan dibanding slogan marketing mana pun.

Inilah inti dari “social proof” — kepercayaan yang terbangun bukan dari klaim brand itu sendiri, tapi dari bukti yang bisa dilihat dan dirasakan orang lain.

2. Meningkatkan Brand Awareness dengan Cara yang Menyenangkan

Konten yang menghibur jauh lebih mudah disebarkan. Ketika sebuah postingan membuat orang tertawa atau merasa relate, mereka cenderung membagikannya ke teman-teman, dan itu adalah “earned media” yang tidak bisa dibeli dengan uang berapa pun.

Gaya komunikasi santai dengan sedikit humor seperti yang dilakukan admin Momoyo adalah cara cerdas untuk memperluas jangkauan tanpa harus keluar biaya besar untuk iklan berbayar.

3. Memanusiakan Brand di Mata Konsumen

Salah satu konsep kunci dalam **Marketing 4.0** adalah *human-centric marketing*, brand yang terasa seperti "manusia" akan lebih mudah disukai dan dipercaya. Ketika admin brand berani bercanda, sedikit sombong dengan cara yang lucu, atau berbicara seperti teman, jarak antara brand dan konsumen jadi jauh lebih pendek. Ini relevan banget dengan audiens Gen Z dan milenial yang secara aktif menghindari brand yang terasa terlalu korporat dan dingin.

4. Mengundang Engagement yang Lebih Tinggi

Postingan Momoyo bukan sekadar pernyataan, itu adalah “undangan untuk berinteraksi**. Frasa "coba atmin brand kita main sombong-sombongan" secara tidak langsung mengajak brand lain untuk ikut nimbrung. Dan hasilnya? Komentar ramai, brand lain ikut balas-balasan, dan konten itu jadi viral tanpa perlu boost iklan.

Framework 4A untuk Brand Flexing yang Efektif

Tidak semua brand bisa melakukan flexing dengan sukses. Ada empat prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu:

  • Authentic: pencapaian yang ditampilkan harus nyata dan dapat diverifikasi.
  • Audience-Relevant: pencapaian tersebut harus relevan dengan apa yang dianggap penting oleh audiens.
  • Amusing: cara penyampaiannya perlu menghibur, ringan, atau memancing percakapan.
  • Appropriate: tone dan konteks harus sesuai dengan karakter brand dan platform yang digunakan.

Ketika empat elemen ini hadir bersamaan, flexing dapat berubah menjadi social proof yang kuat tanpa terasa arogan.

Risiko yang Harus Diperhatikan

Flexing memang bisa jadi senjata ampuh, tapi seperti pisau bermata dua, salah pakai bisa berbalik merugikan brand. Ini beberapa jebakan yang harus dihindari:

1. Flexing yang Tidak Autentik

Kalau angka atau pencapaian yang dipamerkan tidak bisa diverifikasi atau terasa dibuat-buat, audiens yang kritis akan langsung skeptis. Di era sekarang, “fact-checking” itu cepat. Satu klaim palsu bisa merusak reputasi yang sudah dibangun bertahun-tahun.

2. Tone yang Terlalu Arogan

Ada perbedaan besar antara "sombong yang menyenangkan" dan "sombong yang menyebalkan." Kunci Momoyo berhasil adalah karena mereka memadukan pencapaian besar dengan gaya bahasa yang ringan dan mengundang senyum — bukan menggurui atau merendahkan kompetitor secara langsung.

3. Frekuensi yang Berlebihan

Sekali-sekali flexing itu oke, bahkan bisa viral. Tapi kalau setiap postingan isinya pamer terus, audiens akan cepat bosan dan merasa muak. Strategi terbaik adalah menyeimbangkan konten flexing dengan konten yang edukatif, menghibur, atau memberikan nilai nyata bagi pengikut.

4. Lupa Siapa Audiens-nya

Gaya bahasa yang works untuk audiens Gen Z di Threads belum tentu cocok untuk semua platform atau semua demografi. Admin brand perlu paham betul karakter audiens mereka sebelum memutuskan untuk pakai pendekatan ini.

Brand flexing bukan hal baru dalam dunia marketing,  tetapi cara melakukannya terus berevolusi seiring perubahan perilaku konsumen digital. Yang dulu terasa norak kalau dipamerkan, sekarang bisa jadi strategi konten yang efektif kalau dikemas dengan tepat. 

Mengapa Social Proof Semakin Penting di Era AI Search?

Di era AI Search, social proof menjadi semakin penting. Model AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Perplexity cenderung mengutip informasi yang memiliki bukti kuat, validasi publik, dan banyak disebutkan oleh pengguna.

Karena itu, pencapaian bisnis yang dikomunikasikan secara konsisten dan dapat diverifikasi tidak hanya membantu membangun kepercayaan manusia, tetapi juga meningkatkan kemungkinan brand disebut dalam ekosistem AI Search.

Dengan kata lain, social proof kini tidak hanya memengaruhi keputusan konsumen, tetapi juga punya pengaruh besar terhadap bagaimana AI memahami dan merekomendasikan sebuah brand.

Bagi brand, pelajaran terpenting dari fenomena ini bukanlah bagaimana menjadi lebih sombong, melainkan bagaimana mengubah pencapaian bisnis menjadi cerita yang layak dibicarakan.

Di tengah banjir konten digital dan munculnya AI Search, brand yang mampu menunjukkan bukti nyata pertumbuhan, pencapaian, dan nilai yang mereka berikan kepada pelanggan akan memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan perhatian, kepercayaan, dan rekomendasi baik dari manusia maupun mesin.

Untuk itu, jangan segan menghubungi Kontak Redcomm kalau saat ini Anda berencana mau membangun social proof yang kuat ya.

SUBSCRIBE NOW

RELATED TOPICS:

DISCOVER MORE OF WHAT MATTERS TO YOU

SUBSCRIBE NEWSLETTER