knowledge
MENU
SEARCH KNOWLEDGE

Dari Meme Jadi Strategi: Membongkar Tren TikTok ‘Wait, I Forgot the Color’ untuk Digital Marketing

01 May  · 
2 min read
 · 
eye 8  
Digital Marketing Strategy

Strategi Tiktok Wait I Forgot The Color

TikTok sudah lama bukan sekadar platform joget-joget, melainkan mesin awareness dan engagement yang sangat kuat untuk brand yang tahu cara bermain. Salah satu kuncinya adalah memanfaatkan tren audio dan format konten yang sedang ramai, lalu mengadaptasikannya ke konteks bisnis tanpa terasa memaksa. 

Tren “wait, I forgot the color” adalah contoh tepat bagaimana sebuah audio yang terdengar random bisa berubah jadi storytelling yang relatable, estetik, dan sangat shareable. Buat brand, ini peluang untuk tampil lebih manusiawi, lebih fun, tapi tetap relevan dengan positioning produk. 

Apa Itu Tren “Wait, I Forgot the Color”?

Secara sederhana, tren “wait, I forgot the color” adalah format konten TikTok yang menggunakan audio tertentu, biasanya diiringi visual yang colorful atau transisi yang menonjolkan perubahan warna, nuansa, atau identitas diri. 

Beberapa ciri umumnya:  

  • Menggunakan audio dengan kalimat atau nuansa “wait, I forgot the color” atau variasinya.  
  • Visual berupa foto atau video yang menunjukkan perubahan warna, style, atau vibe.  
  • Tone konten cenderung playful, sedikit dramatis, dan sangat estetik.  

Tren ini sering dipakai untuk:  

  • Menunjukkan transformasi gaya (fashion, makeup, hair color).  
  • Menceritakan perubahan fase hidup atau perubahan selera.  
  • Meng-highlight sesuatu yang “sempat terlupakan” lalu muncul lagi, misalnya hobi, passion, atau identitas personal. 

Bagi brand, konsep “lupa warna” ini bisa dimaknai sebagai “Lupa” karakter brand yang sebenarnya lalu “diingatkan lagi” lewat konten. Atau bisa juga dimaknai sebagai pergeseran identitas visual atau rebranding.  Bisa juga makna dari perjalanan konsumen yang sempat pindah ke brand lain lalu “ingat lagi” brand lama.  

Kenapa Tren Ini Cocok untuk Digital Marketing?

Ada beberapa alasan mengapa tren “wait, I forgot the color” menarik untuk strategi konten:  

1. Sangat visual dan estetik  

Tren ini bergantung pada permainan warna dan visual yang kuat, sehingga ideal untuk brand fashion, beauty, F&B, dekorasi, hingga tech yang punya tampilan UI/UX menarik.

2. Emotional and personal  

Banyak kreator mengaitkan tren ini dengan perjalanan diri, nostalgia, atau momen “menemukan diri sendiri lagi”, sehingga mudah diadaptasi menjadi storytelling yang dekat dengan audiens.

3. Fleksibel untuk berbagai niche  

Meski awalnya berkembang di ranah lifestyle dan beauty, konsep “lupa warna” bisa diterjemahkan ke konteks lain: branding, mood, value, bahkan financial habits, tergantung kreativitas brand.

4. Selaras dengan tren “candid content”  

Di 2025–2026, konten yang jujur, apa adanya, dan terasa personal terbukti meningkatkan kepercayaan audiens terhadap brand. Format seperti ini memberi ruang bagi brand untuk terlihat lebih human dan relevan.

Ide Konten Brand Menggunakan Tren “Wait, I Forgot the Color

Berikut beberapa ide konkret yang bisa langsung diterapkan ke akun TikTok brand, dengan gaya penyampaian yang santai tapi tetap rapi.  

1. Transformasi Produk: Dari Lama ke Baru

Gunakan tren ini untuk menonjolkan perubahan produk, packaging, atau desain visual.  

Manfaat:  

  • Menjelaskan proses rebranding tanpa terasa kaku.  
  • Menunjukkan bahwa brand berkembang mengikuti selera pasar.  

2. “Lupa” Target Market, Lalu Ingat Lagi

Brand bisa memakai tren ini untuk mengakui bahwa dulu arah komunikasinya mungkin kurang tepat, lalu sekarang kembali fokus pada core audience.  

Manfaat:  

  • Menunjukkan self-awareness brand.  
  • Mengajak audiens ikut dalam perjalanan perbaikan strategi.  

3. Highlight Warna Brand sebagai Identitas Utama

Jika  brand punya warna signature yang kuat, tren ini sangat cocok

Manfaat:  

  • Menguatkan brand recall melalui visual.  
  • Mengasosiasikan satu warna dengan brand di benak konsumen.  

4. Before–After Mood Konsumen

Gunakan tren ini dari sudut pandang customer journey.  

Manfaat:  

  • Menunjukkan manfaat produk tanpa harus hard-selling.  
  • Menghadirkan humor dan dramatisasi yang relevan dengan TikTok.  

5. Nostalgia: “Lupa” Passion Brand

Banyak audiens senang dengan cerita di balik brand. Tren ini bisa dipakai untuk menceritakan momen ketika brand hampir “lupa” alasan utamanya berdiri.  

Manfaat:  

  • Menguatkan kedekatan emosional dengan audiens.  
  • Membuka ruang untuk storytelling yang lebih dalam di caption.

Tips Teknis Membuat Konten Tren Ini Lebih Maksimal

Agar tren “wait, I forgot the color” terasa profesional namun tetap santai, perhatikan beberapa aspek teknis berikut:  

1. Kualitas Visual: Warna Harus “Berbicara”

  • Pastikan kontras antara bagian “sebelum” dan “sesudah” terlihat jelas.  
  • Gunakan palet warna yang konsisten dengan brand guidelines agar engagement sekaligus memperkuat branding. 
  • Manfaatkan lighting dan editing sederhana (brightness, saturation, vignette) untuk membuat momen transisi terasa “wow”.  

2. Timing ke Beat Audio

  • Sesuaikan momen transisi visual dengan beat atau kalimat kunci di audio.  
  • Kalau perlu, draft dulu storyboard sederhana: frame ke berapa muncul teks, kapan transisi warna, kapan reveal produk.  
  • Timing yang pas akan membuat konten terasa lebih satisfying dan shareable.  

3. Copywriting yang Singkat dan Nempel

  • Hindari teks yang terlalu panjang di layar, karena tren ini sangat cepat.  
  • Gunakan kalimat pendek yang langsung menekankan “lupa–ingat” atau “abu-abu–berwarna”.  
  • Di caption, baru jelaskan insight atau cerita di balik konten dengan bahasa yang lebih rapi, tapi tetap santai.  

4. Sisipkan Call to Action yang Halus

Jangan lupa tetap menyelipkan tujuan marketing:  

  • Ajak audiens berkomentar
  • Arahkan ke katalog, website, atau promo, tapi dengan tone lembut

Strategi Konten Jangka Panjang: Jangan Hanya Ikut Tren

Tren seperti “wait, I forgot the color” bisa menjadi pintu masuk, tapi bukan fondasi utama keseluruhan strategi konten. Gunakan tren ini sebagai bagian dari struktur konten yang seimbang. Campur konten tren dengan edukasi (tips, how-to, insight industri), testimoni dan UGC, behind the scenes dan proses kreatif.  

Posisikan konten tren sebagai pancingan untuk menarik audiens baru, sebagai penguat image brand yang fun dan relevan, serta sebagai cara untuk menunjukkan sisi kreatif tim marketing.  

Dengan begitu, akun TikTok brand tidak hanya bergantung pada satu atau dua tren, tetapi juga punya identitas konten yang berkelanjutan.

SUBSCRIBE NOW

RELATED TOPICS:

DISCOVER MORE OF WHAT MATTERS TO YOU

SUBSCRIBE NEWSLETTER