Bukan Cuma Konten Receh, Liputan Serius Pun Ikut Viral
Satu hal yang bikin akun ini makin menarik untuk dibedah: kontennya ternyata tidak melulu soal momen kocak di lapangan. Beberapa video yang justru mengangkat isu serius, misalnya cuplikan wawancara dengan aktivis hukum Haris Azhar bersama komedian Pandji membahas sebuah kasus hukum juga ikut meraih performa tinggi, bahkan disebut menembus jutaan likes.
Ini menarik karena membuktikan satu hal penting dalam strategi konten: audiens Gen Z tidak alergi terhadap isu berat, asal cara penyampaiannya pas. Bungkusnya tetap santai dan personal — menggunakan gaya bahasa sehari-hari, framing yang relate dengan keresahan anak muda — tapi substansinya tetap membahas isu hukum dan sosial yang nyata.
Ada juga konten yang lebih personal dan reflektif, seperti video yang berisi curahan hati soal apa yang membuatnya benar-benar menikmati profesinya sebagai jurnalis. Konten semacam ini menunjukkan sisi motivasional yang jarang ditemukan di akun-akun sejenis, dan justru memperkuat kedekatan emosional dengan audiens karena terasa jujur dan tidak dibuat-buat.
Personal Branding yang Mendukung Karier, Bukan Menggantikannya
Satu hal yang menarik, personal branding di sini tidak dibangun untuk meninggalkan profesi aslinya, melainkan untuk memperkuatnya. Identitas sebagai jurnalis tetap dipertahankan dan bahkan menjadi nilai jual utama dari kontennya sendiri.
Pelajaran untuk siapa pun yang ingin membangun personal branding: profesi atau keahlian yang sudah dimiliki sebenarnya bisa jadi sumber konten yang paling autentik, dibandingkan dengan harus menciptakan persona baru dari nol.