knowledge
MENU
SEARCH KNOWLEDGE

Profesi Kaku Jadi Konten Hits: Belajar Personal Branding dari Akun Jurnalis Ini

26 Aug, 2026  · 
1 min read
 · 
eye 216  
Digital Marketing

Personal Branding Wartawan Gen Z

Siapa bilang jadi wartawan itu identik dengan wajah tegang, deadline mepet, dan bahasa yang kaku? Satu akun TikTok berhasil membalikkan stereotip itu 180 derajat. Lewat konten yang santai, jujur, dan kadang absurd, sosok yang dikenal sebagai "Zhulfakar | Wartawan Gen Z" membuktikan bahwa profesi apa pun — sekaku apa pun kelihatannya — bisa disulap jadi personal brand yang engaging di media sosial.

Menariknya, ini bukan sekadar soal konten lucu-lucuan. Di balik video-video ringan itu, ada strategi digital marketing yang sebenarnya bisa dicontek siapa saja: profesional, UMKM, sampai brand besar sekalipun. 

Sebelum masuk ke bedah strateginya, penting untuk tahu bahwa akun ini tidak digerakkan oleh kreator konten biasa yang "cosplay" jadi wartawan. Zhulfakar adalah jurnalis sungguhan yang berkarier di bawah naungan grup media BeritaSatu, merangkap tugas di BeritaSatu, BTV Indonesia, dan Investor Daily. Ia meliput isu-isu serius layaknya wartawan pada umumnya, termasuk pernah terjun langsung meliput bencana di Sumatera, lengkap dengan cerita kekhawatiran orang tuanya yang berpesan agar ia selalu mengutamakan keselamatan saat bertugas di lapangan.

Latar belakang inilah yang membuat kontennya terasa berbeda dari akun-akun "POV kerjaan" pada umumnya:

  • Profesi asli, bukan sekadar tema konten. Ia benar-benar menjalani rutinitas peliputan sehari-hari, sehingga apa yang ia tunjukkan di media sosial adalah potongan nyata dari pekerjaannya, bukan skenario yang dibuat-buat.
  • Punya dua sisi yang saling melengkapi. Di satu sisi, ia meliput isu berat seperti bencana alam; di sisi lain, ia juga membagikan momen ringan dan personal. Kontras inilah yang membuat sosoknya terasa utuh dan manusiawi.
  • Followers yang loyal meski jumlahnya tergolong menengah. Dengan sekitar belasan ribu pengikut di Instagram, engagement yang ia dapatkan — termasuk video yang tembus ratusan ribu likes di TikTok, menunjukkan bahwa kekuatan personal branding tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya jumlah followers, melainkan seberapa dekat koneksi yang terbangun dengan audiens.

Dengan kata lain, identitas "Wartawan Gen Z" bukan sekadar gimmick untuk cari perhatian, melainkan cerminan langsung dari siapa dirinya dan apa yang ia kerjakan setiap hari. Inilah fondasi yang membuat seluruh strategi di bawah ini terasa kredibel, bukan sekadar taktik kosong.

Add redcomm.co.id as a preferred source on Google

Bukan Cuma Konten Receh, Liputan Serius Pun Ikut Viral

Satu hal yang bikin akun ini makin menarik untuk dibedah: kontennya ternyata tidak melulu soal momen kocak di lapangan. Beberapa video yang justru mengangkat isu serius, misalnya cuplikan wawancara dengan aktivis hukum Haris Azhar bersama komedian Pandji membahas sebuah kasus hukum juga ikut meraih performa tinggi, bahkan disebut menembus jutaan likes.

Ini menarik karena membuktikan satu hal penting dalam strategi konten: audiens Gen Z tidak alergi terhadap isu berat, asal cara penyampaiannya pas. Bungkusnya tetap santai dan personal — menggunakan gaya bahasa sehari-hari, framing yang relate dengan keresahan anak muda — tapi substansinya tetap membahas isu hukum dan sosial yang nyata.

Ada juga konten yang lebih personal dan reflektif, seperti video yang berisi curahan hati soal apa yang membuatnya benar-benar menikmati profesinya sebagai jurnalis. Konten semacam ini menunjukkan sisi motivasional yang jarang ditemukan di akun-akun sejenis, dan justru memperkuat kedekatan emosional dengan audiens karena terasa jujur dan tidak dibuat-buat.

Personal Branding yang Mendukung Karier, Bukan Menggantikannya

Satu hal yang menarik, personal branding di sini tidak dibangun untuk meninggalkan profesi aslinya, melainkan untuk memperkuatnya. Identitas sebagai jurnalis tetap dipertahankan dan bahkan menjadi nilai jual utama dari kontennya sendiri.

Pelajaran untuk siapa pun yang ingin membangun personal branding: profesi atau keahlian yang sudah dimiliki sebenarnya bisa jadi sumber konten yang paling autentik, dibandingkan dengan harus menciptakan persona baru dari nol.

Add redcomm.co.id as a preferred source on Google
SUBSCRIBE NOW

RELATED TOPICS:

DISCOVER MORE OF WHAT MATTERS TO YOU

SUBSCRIBE NEWSLETTER