knowledge
MENU
SEARCH KNOWLEDGE

Dari Furnitur Menjadi Bendera: Pelajaran Creative Commerce dari Kampanye Terbaru IKEA

26 Aug, 2026  · 
2 min read
 · 
eye 337  
Digital Marketing Strategy

Kampanye IKEA Assemble The World

Piala Dunia kembali bergulir, dan seperti biasa, berbagai brand berlomba memanfaatkan momentum global ini untuk menarik perhatian audiens. Namun, di tengah maraknya konten bertema sepak bola yang cenderung seragam, satu kampanye berhasil menonjol dan menarik perhatian pelaku industri marketing: Assemble the World yang digagas oleh Ikea Canada.

Alih-alih menggunakan pendekatan konvensional seperti banner bertema bola atau promo diskon musiman, Ikea memilih strategi yang lebih orisinal. Mereka menyusun produk-produk sehari-hari — mulai dari lemari, lilin, piring oven, hingga meja outdoor — menjadi representasi visual bendera negara-negara peserta Piala Dunia. Pendekatan ini terlihat sederhana, namun sarat dengan pertimbangan strategis yang layak dipelajari lebih dalam.

Kampanye ini digarap oleh Dentsu Creative Canada dan menampilkan 18 desain bendera negara yang seluruhnya disusun dari produk katalog Ikea. Pendekatan ini termasuk dalam kategori creative commerce, yaitu strategi yang memadukan storytelling kreatif dengan produk yang secara langsung dapat dibeli konsumen.
Beberapa elemen kunci dari kampanye ini meliputi:

  • Pendekatan social-first. Konten dirancang khusus untuk platform media sosial, bukan sekadar adaptasi digital dari materi iklan konvensional.
  • Distribusi multikanal. Selain media sosial, visual kampanye juga ditampilkan di kanal milik Ikea sendiri (situs web, email, dan gerai fisik) serta pada media luar ruang di sekitar lokasi toko Ikea.
  • Ajakan bertindak yang ringan namun jelas. Tagline kampanye, "Click, Buy, Wave," mengajak audiens untuk berbelanja produk terkait, membagikan konten di media sosial, atau mencetak visual bendera untuk ditempel di kendaraan sebagai bentuk dukungan terhadap tim favorit.
  • Konsistensi dengan identitas brand. Kampanye ini tetap selaras dengan tagline lama Ikea, "bring home to life," sehingga terasa sebagai perluasan alami dari identitas brand, bukan inisiatif musiman yang berdiri sendiri.

Menurut Scott Tavener, Executive Creative Director di Dentsu Creative, kampanye ini dirancang untuk merayakan keberagaman latar belakang masyarakat Kanada, sekaligus menangkap semangat kompetisi persahabatan yang menjadi ciri khas Piala Dunia.

Add redcomm.co.id as a preferred source on Google

Insight Strategis untuk Diterapkan

Tidak semua brand memiliki skala anggaran sebesar Ikea, namun prinsip strategis di balik kampanye ini dapat diadaptasi oleh brand dengan berbagai ukuran. Berikut beberapa insight yang relevan untuk diterapkan:

  • Identifikasi titik temu antara momen besar dan identitas brand. Sebelum mengikuti sebuah tren, penting untuk mengevaluasi apakah tren tersebut benar-benar relevan dengan nilai dan positioning brand, bukan sekadar mengikuti arus.
  • Libatkan produk secara autentik, bukan sebagai elemen tempelan. Konten yang menampilkan produk secara kreatif dan terintegrasi memiliki peluang lebih besar untuk mendorong konversi dibandingkan konten yang hanya mengadopsi tema tanpa keterkaitan yang jelas.
  • Rancang konten dengan potensi untuk dibagikan. Sebelum publikasi, penting untuk mengevaluasi apakah konten tersebut memiliki nilai yang cukup kuat untuk dibagikan audiens ke jaringan mereka sendiri.
  • Manfaatkan keberagaman audiens secara autentik. Jika target pasar memiliki latar belakang yang beragam, representasi yang autentik dan relevan dengan narasi brand akan lebih efektif dibandingkan pendekatan diversity yang bersifat superfisial.
  • Kembangkan satu konsep kreatif ke berbagai format. Ikea menunjukkan bahwa satu ide besar yang kuat dapat diadaptasi ke berbagai kanal — media sosial, situs web, email, hingga media luar ruang — tanpa kehilangan esensi pesan utamanya.

Meski konsepnya menarik, efektivitas ajakan "Click, Buy, Wave" dalam mendorong konversi penjualan secara langsung masih perlu dipertanyakan. Tingkat engagement dan apresiasi audiens terhadap visual kampanye tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan penjualan produk yang ditampilkan.

Hal ini menjadi pengingat penting bagi para praktisi marketing: kampanye kreatif yang mendapat respons positif dari audiens belum tentu secara otomatis meningkatkan angka penjualan. Engagement yang tinggi merupakan aset berharga, namun tetap memerlukan strategi funnel yang jelas agar brand awareness dapat dikonversi menjadi transaksi nyata — misalnya melalui retargeting, penawaran khusus, atau integrasi langsung menuju halaman produk.

Kampanye Assemble the World dari Ikea Canada menunjukkan bahwa kreativitas yang dieksekusi dengan tepat dapat menjadi strategi marketing yang lebih efektif dibandingkan sekadar mengandalkan besaran anggaran. Kunci keberhasilannya terletak pada relevansi konsep, keterlibatan produk secara autentik, serta desain yang memang dirancang untuk mendorong partisipasi audiens.

Bagi para praktisi digital marketing yang tengah menyusun strategi untuk momen-momen besar mendatang, baik itu event olahraga, hari besar nasional, maupun tren musiman lainnya — pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah: bagaimana menjadikan produk sendiri sebagai bagian dari narasi, bukan sekadar pengamat di pinggir tren.

Add redcomm.co.id as a preferred source on Google
SUBSCRIBE NOW

RELATED TOPICS:

DISCOVER MORE OF WHAT MATTERS TO YOU

SUBSCRIBE NEWSLETTER